Month: November 2017

Editorial: Jangan Biarkan KPK Tertidur!

1718 12 Darwin Teks Editorial Jason dan Lia

Advertisements

Cerpen: Malaikat Maut

karya Oryza Azzahra

1718 9 EVEREST

Dengan elegan, Yofiel terbang menyusuri jalanan yang dikelilingi oleh rumah-rumah besar sembari memegang erat 6 buku catatan yang kira-kira setebal paha gajah. Baru saja kemarin ia selesai mencatat amal seorang remaja lelaki yang baru saja beranjak umur dewasa. Biasanya Yofiel mengambil jatah cuti dulu, melepas pikiran dari horor dosa-dosa manusia yang selalu bisa saja mengejutkan seorang malaikat berumur ribuan tahun. Tapi kali ini ia ingin cepat-cepat pensiun agar bisa menikmati surga yang disediakan oleh Sang Maha Esa.

Di momen berikutnya, buku-buku tebalnya sudah jatuh berserakan di jalanan, Yofiel sudah terkapar di atas jalanan dan rambut mulusnya sudah ternodai kotoran aspal jalanan. Ia menghela nafas yang panjang sebelum beranjak dari posisinya yang memalukan, membuang jauh kata-kata kejengkelan yang hampir ia lontarkan. Biasanya yang berani tidak sopan begini, sih, salah satu dari jin-jin terkutuk itu. Itulah yang Yofiel pikirkan sebelum mendongak, pandangannya bertemu dengan sesosok makhluk yang terlihat tidak berbeda jauh dengannya. Ternyata figur yang menabraknya adalah seorang malaikat juga.

             “Eh, maaf, ya.” Ucap malaikat tersebut. Matanya terbelalak sedikit ketika melihat nama manusia yang tertera buku-buku catatan yang sudah kembali di dekapan Yofiel. “Kamu yang hari ini mulai mencatat si Harto, ya?”

              “Iya. Memangnya kenapa, ya?” Ia bertanya balik.

          “Oh, baguslah. Pasti kamu nanti suka si Harto. Amal baiknya banyak, lho.” Mendengar respon malaikat tersebut, Yofiel merasa sedikit lega.  Paling tidak pekerjaannya akan menjadi jauh lebih mudah jika orang ini memang sungguh beriman; ia tidak perlu susah-susah berubah jadi seorang manusia dan memberikan manusianya sebuah pelajaran. Yofiel kemudian mengangguk dan mengucapkan selamat tinggal kepada malaikat yang sempatnya menabrak dia tadi.

 

            Hari- hari pertama mencatat amal Harto berjalan cukup baik. Harto terlihat seperti pejabat pada umumnya dengan kumis tebal, kemeja batik lengan panjang, sebuah peci dan sepasang mata yang selalu terlihat mengantuk. Di minggu ketiga, perasaan Yofiel mulai tidak enak. Biasanya para malaikat akan mendapatkan tanda-tanda jika dosa manusia mereka akan mulai makin banyak. Di suatu pagi Yofiel mencium bau bangkai tikus yang sangat menyengat, rasanya ia tidak pernah mendapat firasat sekuat ini seumur-umur ia menjadi seorang malaikat. Sungguh, jijik sekali. Dan disitulah dimana pekerjaan Yofiel mulai berserakan.

             Di siang harinya, Yofiel mengikuti Harto pergi kerja. Jadwal Harto seharusnya mengikuti sebuah pertemuan yang juga diikuti para pejabat-pejabat lainnya, namun ia malah pergi jalan-jalan ke mall dikelilingi pria-pria berbadan kekar sambil masuk keluar toko-toko yang barangnya bisa semahal beli tanah di Jakarta Selatan. Manja sekali, pikir Yofiel. Makan saja harus dipesankan salah satu pria-pria badan kekar itu. Saya gak bakal terkejut kalau dia minta mereka membersihkan kotorannya. Hih. Yofiel meggidik ngeri dengan pikirannya sendiri. Tepat di saat itu, ponsel Harto berdering, menunjukkan sebuah pesan dari anak buahnya.

 

Assalamualaikum Pak Harto, hari ini kenapa tidak datang ke rapat ya?

 

Setelah itu Harto terlihat menghela nafas yang dalam, seolah-olah keasyikannya diruntuhkan dan dihancurkan sampai menjadi keping-keping kecil oleh satu pesan itu. Ia lalu mengirim hanya sepasang kalimat yang terlalu pendek untuk dijadikan sebuah penjelasan ke bawahannya tersebut.

 

Saya sibuk. Gak usah SMS-SMS lagi, ya.

 

Yofiel mengeluarkan sebuah pulpen bertinta merah dan menarik sebuah garis miring yang menimpa empat garis lurus lainnya di halaman baru, ikut menghela nafas.

 

Tiga bulan berlalu dengan cepat tapi penuh kekecewaan. Setelah hari Harto bolos kerja, setiap hari garis-garis merah di buku dosa selalu menambah dan garis emas di buku amal baik selalu mengurang. Tiga hari yang lalu Harto membentak keras pembantu malangnya karena tidak sengaja membakar kemeja batiknya dengan setrikaan. Dua hari yang lalu ia menyogok kepala sekolah anaknya dengan sebuah koper penuh lembaran-lembaran uang merah muda. Dan baru kemarin juga ia melihat tangan Harto meremas lembut kaki salah satu rekan kerja wanitanya. Seiring berjalannya waktu, kemuakan Yofiel terhadap tingkah Harto yang menjijikkan bertambah besar, secepat jumlah dosa yang tercatat di buku tebalnya. Bau bangkai tikus disekeliling pejabat itu juga semakin menyengat. Yofiel memutuskan ini sudah waktunya ia berubah menjadi seorang manusia untuk sementara.

 

Kulit Yofiel yang tadinya mulus dan cerah sekarang terlihat beruntusan dan kumuh. Jubah putih panjang dan sayap emasnya kini berubah menjadi baju kusut dan penuh lubang-lubang. Ia menempatkan dirinya di depan pagar rumah besar Harto sambil merintih dengan lesu, mengulang-ulang kata “minta”. Namun respon yang ia dapatkan hanyalah suara Harto yang menggelegar dari dalam, memerintahkan Yofiel untuk pergi dari rumahnya. Namun Yofiel tidak menyerah. Ia tiduran di depan pagar tinggi itu dan mengeluarkan dirinya dari tubuh palsu yang berupa seorang manusia miskin. Kulit tubuh tersebut sekarang terlihat terlalu pucat untuk dianggap hidup.

 

Esok harinya Harto dibanjiri wartawan. Kini ia mempunyai nama panggilan baru, yaitu “Pejabat yang membiarkan orang miskin mati di depan rumahnya”. Reputasinya hancur, tapi sudah sangat biasa melihat pejabat seperti Harto di negara ini. Berita tersebut tersebar luas dengan cepat ke pulau. Yofiel kira rencananya berhasil, namun si pejabat tua itu tidak terlihat terguncang sama sekali. Jumlah dosanya masih bertambah dan kebusukan yang mengelilinginya masih hidup. Ia tidak cukup kuat untuk mengurus manusia seperti ini. Rasa muaknya bertumbuh, dan dia melompat ke tempat yang jauh dari Harto, jauh dari bumi sebelum dirinya benar-benar muntah.

 

“Apa perlu kamu, Yofiel?” Suara yang dalam dan keras memenuhi ruangan tersebut. Suara Sang Maha Esa.

 

“Saya mau berhenti kerja untuk manusia saya.” Ucapnya dengan kepala menunduk.

 

“Kamu tahu, kan, hukumannya jika tugasmu tidak dijalankan sampai tuntas?” Suara tersebut menanyakan lagi.

 

“Tahu. Namun dosa-dosa dia terlalu mengerikan, ya Tuhan. Lebih baik saya dihukum menjadi manusia dari pada harus mengurus manusia hina itu.”

 

Setelah itu ada keheningan sebentar.

 

“Baiklah kalau begitu.”

 

Lalu Yofiel tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan.

Cerpen: Sungai Harapan

karya Aditya Danandjaya

1718 9 EVEREST

 

Saat itu tengah hari, tapi langit berwarna putih. Putih-putih yang tidak dipenuhi awan. Lisa menatap langit, menarik napas dalam-dalam. Perutnya bergemuruh.

 

Lisa melirik ke depan, melewati penghalang batu yang kotor itu. Di balik penghalang itulah kota Jakarta, yang terisi dengan gedung-gedung tinggi. Saat Lisa masih kecil, dia menamai tempat itu kota “brum brum”. Sebagai seorang anak, Lisa akan melihat mobil yang melaju di jalan raya dari atas penghalang, dan teriak saat mesinnya mengaum: “brum brum!”

Di bawah penghalang tersebut adalah sebuah sungai. Biasanya, sungai itu berwarna coklat tua, dengan sampah mengambang di atasnya. Lisa tidak tahu dari mana sampah itu berasal. Sampah-sampah tersebut biasanya muncul secara spontan, setiap saat sepanjang hari, dan biasanya, sampah itu adalah satu-satunya harapannya.

 

Perutnya kembali bergemuruh, tenggorokannya menyengat.

 

Lisa duduk di samping sungai, kakinya di dalam air. Dia bisa merasakan ikan mengisap kakinya. Dia mengerutkan dahi pada sungai yang mengalir. Tidak ada sampah.

 

Sesekali, sekantong ‘Cheetos’ akan diisi dengan remah-remah basah, dan dia dan Wulan akan melahapnya seperti tidak ada hari esok. Jika dia beruntung, dia akan menemukan botol air dan mendaur ulangnya. Sumber hidupnya benar-benar sungai ini.

 

Dia bersenandung, melirik dengan penuh perhatian pada ikan yang berenang dengan bebas. Sungai itu sedikit lebih jernih – warnanya tidak coklat tua lagi, dan tentu saja, dia tidak menemukan sampah yang mengambang di atasnya selain botol Aqua biasa.

 

Dia melotot pada ikan-ikan itu, berpikir tentang kehidupan yang seharusnya mereka miliki. Ada banyak ikan di sana, besar dan kecil, jadi makanan pasti tidak akan menjadi masalah di sana.

 

“Lisa!” Sebuah suara menusuk telinganya dari kejauhan. Cahaya kuning terang berkilau melambai di sekitar matanya, dan beberapa jenis dering bergetar di telinganya. “Aku menemukan sesuatu!”

 

Kakinya lemah, saat ia bangkit menuju tanah. Dia mengenakan pakaian longgar yang memiliki teks “Upin & Ipin”, Yang tidak terlihat bagus pada sosok kurusnya.

 

Di balik pohon, Wulan sedang meraih sesuatu. “Sini!”

 

Lisa berlari dengan segenap kekuatannya ke arah temannya. “Apa yang telah kamu temukan?” tanyanya, terengah-engah. Sambil menyeringai, Wulan mengangkat sekantong ‘Cheetos’, dengan ekspresi bangga di wajahnya.

 

Lisa melirik tas cheetos dengan putus asa. “Tolong – aku butuh makanan -“, dia ucap.

 

Kedua teman itu berbagi remah-remah Cheetos tersebut. Perutnya masih bergemuruh, bengkak kesakitan, dan perutnya menyengat – tapi setidaknya itu terisi – sedikit.

 

Wulan melirik sungai, mengerutkan dahi. Dengan lemah, Wulan ucap, “Dulu banyak ada sampah di sini. Setidaknya kita mendapatkan lima tas ‘Cheetos sekarang.”

 

Lisa tidak menjawab. Dia berlutut, menggengam perutnya dan menatap lantai.

 

“Lisa?” Tanya Wulan dengan muram. “Kamu terlihat pucat. Apakah kamu baik-baik saja? Kayaknya kamu harus pulang. Ayo.”

“Tidak,” dia berhasil mengatakannya. “Aku akan … aku akan baik-baik saja. Bantu aku.”

 

Wulan membantunya bangun. Lisa merasa seperti sedang mengangkat tas penuh batu. Kelopak matanya tertutup dan terbuka dengan spontan, dan dia berada di ambang ketidaksadaran.

 

“Ya, kami benar-benar perlu mengembalikanmu ke rumahmu, kau hampir pingsan,” kata Wulan. “ayo, pegang tanganku.”

 

Tapi Wulan berhenti di tengah jalan. Matanya membelok ke sesuatu di belakangnya. Dia lemah, tapi dia berhasil melirik dibelakang punggungnya. Ada mobil hitam, dan seorang pria melangkah keluar dari sana, memakai kacamata, jam tangan yang mengilap, dan sebuah buku catatan terselip di tangannya.

 

Pria itu berhenti berjalan dan melirik kedua gadis itu, sambal tersenyum. Dia terus berjalan.

 

“Pak,” kata Wulan dengan sopan. “Kami membutuhkan bantuanmu.”

 

Pria itu tersenyum padanya. “Tidak perlu khawatir, sungai sudah dibersihkan, ya, kita sudah mendapat banyak keluhan bahwa sungai ini sangat tidak higienis, jadi kita membersihkannya,” kata pria itu. “Sekarang ini sudah cukup bersih, seperti yang bisa Anda lihat, tapi masih ada sampah dari dasar sungai.”

 

Wulan mungkin bisa merasakan apa yang dipikirkan Lisa, karena dia mencengkeram tangannya erat-erat.

 

“Tidak, tuan, tolong-“

 

“Semua akan diurus hari ini,” pria itu tampak sangat bangga dengan dirinya sendiri. “Malam ini, sungai ini akan menjadi sungai baru! Lebih higienis dan bersih,” pria itu menatap Wulan. “Nah, mengapa Anda tidak mengirim temanmu ini kembali ke rumahnya – dia terlihat sangat sakit.”

 

Lisa mengerang.

 

“Tuan, sungai-!”

 

“Sungai akan diurus, saya jamin,” kata pria itu dengan cepat.

 

“Itu bukan apa yang saya maksud-“

 

“Nah, jika Anda permisi, saya benar-benar perlu memimpin pembersihan,” katanya.

 

Sekali lagi keheningan untuk Lisa. Dia bisa merasakan air menetes ke rambutnya. Wulan sedang terisak-isak.

 

“Katakan apa yang terjadi,” kata Lisa dengan lemah.

 

“Ada kapal, mereka membersihkan sungai, Lisa!” Wulan ucap.

 

Apa yang tersisa di perutnya mengalir ke tenggorokannya. Gelombang keputusasaan melonjak melewatinya. Kepalanya berputar, menjadi lebih ringan dan ringan.

 

“Lisa?” Tanya Wulan. “Lisa, katakan kapan terakhir kali kamu makan.”

 

Dia tidak ingat.

 

“Lisa. Lisa. Lisa!”

 

Lisa mencoba membuka mulutnya, tapi itu tidak berhasil. Dari ujung matanya, dia bisa melihat kegelapan.

 

“Lisa, apakah kamu pingsan?” Wulan melambaikan tangannya di depan wajah Lisa. “Lisa!”

 

Kegelapan itu semakin mendekat.

 

“Lisa! Bangun!”

 

Kegelapan memeluknya.